Hadirkan Fasilitator Pembelajaran BBGTK Provinsi Jawa Timur, Narasumber Tekankan Menulis Itu Membantu Orang Lain, Bukan Mengesankan Orang Lain
JEMBER - Program Studi S2 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Pascasarjana menggelar kegiatan Public Lecture bertema “Menyusun Karya Ilmiah: Buku Pembelajaran bagi Mahasiswa S2 PGMI UIN KHAS Jember” pada Selasa, 26 Mei 2026 di Ruang Teater Lantai 1 Gedung Penunjang Pascasarjana UIN KHAS Jember. Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa S2 PGMI angkatan 2024, 2025, dan 2026.
Public lecture menghadirkan sebagai narasumber utama yang membahas strategi penulisan buku akademik modern bagi mahasiswa pascasarjana. Dalam pemaparannya, ia menyoroti tantangan dunia pendidikan saat ini yang dihadapkan pada perubahan karakter generasi digital.
Menurutnya, peserta didik masa kini hidup di era yang serba cepat, visual, dan interaktif. Namun, proses pembelajaran di kelas masih banyak menggunakan pola lama yang monoton dan terlalu berpusat pada guru. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan bagi pendidik untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan dan mudah diterima generasi masa kini.
“Kita sedang mengajar generasi digital menggunakan pola lama. Buku Anda adalah jembatannya,” ungkap Dr. Muis yang juga Guru PAI di SMAN 1 Yosowilangun Lumajang.
Dr. Abdul Muis menegaskan bahwa buku pembelajaran saat ini tidak cukup hanya berisi teori yang kaku dan sulit dipahami. Sebaliknya, buku akademik harus mampu menjadi media pembelajaran yang komunikatif, praktis, dan dekat dengan kebutuhan pembaca. Dalam sesi materi, Dr. Abdul Muis kembali menekankan bahwa buku akademik modern harus mampu menjadi media pembelajaran yang praktis, komunikatif, dan membantu pembaca memahami persoalan secara sederhana tanpa kehilangan kualitas ilmiahnya.
“Banyak penulis akademik masih terjebak pada pola lama, yakni menulis untuk terlihat pintar, bukan untuk membantu pembaca memahami isi tulisan. Hal tersebut terlihat dari penggunaan bahasa yang terlalu formal, terlalu banyak definisi, dan minim contoh praktis,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa pembaca pada dasarnya tidak mencari penulis yang paling cerdas, melainkan penulis yang mampu menjelaskan persoalan dengan jelas dan mudah dipahami.
Dalam pemaparannya, Dr. Abdul Muis juga memperkenalkan konsep penulisan buku modern yang menggabungkan validitas ilmiah dengan pendekatan humanis. Menurutnya, karya akademik yang baik harus mampu menghadirkan keseimbangan antara teori dan praktik. Ia menilai bahwa banyak karya akademik gagal menjangkau pembaca karena terlalu fokus pada teori dan melupakan kebutuhan pembaca terhadap contoh nyata.
“Teori itu penting, tetapi teori akan lebih mudah dipahami apabila disertai cerita nyata dan contoh aplikatif. Contoh nyata membuat teori menjadi hidup,” katanya.
Selain membahas pendekatan penulisan akademik, Dr. Abdul Muis juga memberikan motivasi kepada peserta terkait proses penyusunan buku ilmiah.
Ia menjelaskan bahwa banyak penulis gagal menyelesaikan buku bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena tidak memiliki sistem dan kebiasaan menulis yang teratur. Oleh karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk membangun pola kerja yang realistis dan berkelanjutan dalam proses menulis.
Menurutnya, proses penulisan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti menyediakan waktu khusus untuk fokus menulis selama 30 menit setiap hari, menyusun tulisan secara bertahap melalui subbab-subbab kecil, serta menjaga konsistensi menulis tanpa bergantung pada suasana hati.
“Jangan menunggu mood. Kalau menunggu mood, buku tidak akan pernah selesai. Konsistensi mengalahkan intensitas yang meledak-ledak,” tegasnya.
Kegiatan public lecture kemudian dilanjutkan dengan praktik penyusunan outline buku. Para mahasiswa terlihat aktif mengikuti jalannya materi serta menyampaikan berbagai pertanyaan terkait strategi penyusunan buku pembelajaran, teknik penulisan akademik populer, hingga langkah menghasilkan karya ilmiah yang relevan dan aplikatif.
Kontributor: Akhmal Duta Bagaskara



